Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
0

Proses Produksi dan Penanganan Limbah

Posted by Unknown on 08.45 in ,
Proses Produksi dan Penanganan Limbah


Proses Produksi
Prinsip proses produksi tepung terigu adalah memisahkan endosperm dari lapisan bran dan mereduksi endosperm hingga berukuran kurang lebih 15 mikron. Adapun proses produksi yang dipakai adalah proses produksi terus menerus.  Proses produksi meliputi proses pembersihan, proses pencampuran, proses pengkondisian, proses penggilingan, dan proses pengayakan.

1. Proses Pembersihan
Proses pembersihan terdiri dari pembersihan pendahuluan, pembersihan pertama, dan pembersihan kedua. Gandum yang berasal dari silo dikeluarkan melalui silde gate yang berada dibawah silo gandum. Kemudian dialirkan ke mill dengan belt conveyor, selanjutnya chain conveyor. Untuk selanjutnya dibawa ke atas mill dengan menggunakan bucket elevator untuk dilakukan pembersihan pendahuluan. Pembersihan pendahuluan dilakukan dengan menggunakan separator sehingga gandum terpisah dari offal. Tujuan pembersihan pendahuluan ini adalah untuk menyaring offal berukuran besar yang tidak tersaring pada saat pembersihan sebelum masuk silo. Jenis offal yang tersaing seperti kayu, batang gandum, atau tanaman lain yang terbawa pada saat panen. Gandum yang masuk ke dalam mill diangkat oleh screw conveyor menuju separator. Gandum yang melewati separator, masuk kedalam screw conveyor menuju raw wheat bin.  Gandum yang masuk ke dalam masing-masing mill melalui screw conveyour kemudian dimasukkan ke dalam magnetic separator , setelah itu gandum masuk kedalam buffer bin untuk disimpan sementara sebelum masuk ke dalam timbangan agar penimbangan dapat dilakukan secara kontinu. Setelah penimbangan, gandum akan melalui proses pembersihan dengan menggunakan mesin yang berbeda dengan fungsi yang berbeda pula, yaitu dengan menggunakan mesin separator, carter disc, scourer, dan dry stoner. Seperti misalnya pada mesin separator, gandum masuk melalui inlet kemudian terjadi pemisahan offal dari gandum. Ukuran yang lebih besar dari biji gandum akan tersangkut, kemudian gandum dan offal seperti pasir dan tanah akan lewat pada ayakan bawah. Gandum dan kotoran tersebut akan dipisahkan oleh ayakan bawah dengan cara gandum akan trailing sedangkan kotoran akan lewat. Pada pembersihan kedua, gandum yang telah ditransfer oleh bucket elevator keatas mill, selanjutnya dialirkan ke hopper melalui crew conveyor untuk selanjutnya gandum dialirkan menuju magnetic separator dan meuju buffer bin yang pada akhir poses akan ditibang dengan timbangan volumetric untuk mengetahui persentasi ekstrasi gandum dari laju aliran gandum persatuan waktu tertentu. Gandum akan dilalirkan secara merata ke masing-masing grinder untuk proses penggilingan.

2. Proses pencampuran
Proses pencampuran jenis gandum dilakukan setelah tahap pembersihan pendahuluan. Aliran gandum yang dikeluarkan dari raw wheat bin ditimbang dengan menggunakan timbangan flow metric regulator. Selanjutnya gandum keluar dari timbangan, lalu tertampung dalam screw conveyor. Proses pencampuran gandum terjadi pada screw conveyor akibat screw yang berputar. Gandum yang telah tercampu rselanjutnya diangkat keatas miller dengan menggunakan bucket elevator.

3. Proses pengkondisian
Setelah selesai tahap pembersihan pertama, kemudian dilakukan proses pengkondisian. Pengkondisian adalah proses penyiapan gandum pada suatu karakteristik penggilingan yang optimal, yaitu ekstrasi yang tinggi dan kualitas tepung yang baik. Tahapan proses pengkondisian meliputi first dampening, first rempering, second dampening dan second tampering. Dampening adalah proses penambahan air pada gandum, sedangkan tempering adalah proses penyimpanan gandum pada suatu kondisi tertentu.

4. Proses penggilingan
Proses penggilingan bertujuan untuk menggiling endosperm menjadi tepung dengan ukuran kurang lebih 150 mikron. Hasil ekstrasi penggilingan menjadi tepung umumnya 74 hingga 76%, sedangkan sisanya menjadi produk samping yaitu bran, pollard, pellet, tepung industri. Proses tepung terdiri dari penggilingan dan pengayakan. Prinsip penggilingan adalah memisahkan endosperm dari lapisan aleuron cell atau lapisan bran dan mereduksi endosperm tersebut menjadi tepung. Proses penggilingan ini terdiri dari proses pemecahan, yaitu proses memisahkan bran yang masih bersatu dengan endosperm serta memecahkan endosperm sehingga menjadi semolina, middling dan tepung pati. Proses berikutnya dalah proses reduksi, yaitu mereduksi endosperm yang sudah dipisahkan pada proses pemecahan  menjadi tepung dengan persentase ekstrasi tepung setinggi mungkin dengan memperhatikan faktor kadar abu. Proses yang terakhir adalah proses pemurnian, yaitu proses membersihkan atau memsiahkan bran idari semolina atau middling agar proses reduksi ekstrasi tepung setinggi mungkin dengan kadar abu yang rendah.

Gandum yang siap untuk digiling dimasukkan ke rol pemecah biji gandum dan dihasilkan bran yang masih banyak mengandung endosperm dan sebagian kecil semolina, midling dan tepung. Gandum yang telah digiling dibawa ke atas dengan sistem transportasi vertical menggunakan udara bertekanan yang berasal dari aspirator. Selanjutnya produk-produk dari rol pemecah masuk ke siklon untuk dipisahkan menggunakan aliran udara sehingga aliran produk diperlambat. Kemudian gandum masuk ke plansifer untuk memisahkan partikel-partikel berdasarkan ukuran. Proses ini dilakukan berulang-ulang dengan menggunakan mesin yang berbeda sampai endosperm pada kulit dapat terambil dan menjadi tepung sebanyak-banyaknya. Pada rol pemecah dihasilkan pecahan endosperm yang masih mengandung sedikit bran, sehingga proses masih dilanjutkan ke rol penggores. Fungsi rol ini adalah untuk menggores dan melepaskan semolina dari bagian kulit. Setelah semolina dan middling yang dihasilkan terpisah dari kulit gandum, proses selanjutnya dalah proses pengecilan ukuran atau proses reduksi. Proses reduksi dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang sehingga endosperm dapat dipisahkan dari kulitnya dan dapat di ekstraksi menjadi tepung.

5. Proses Pengayakan
Pengayakan bertujuan untuk memisahkan partikel-partikel berdasarkan ukuran dan selalu dilakukan setelah proses penggilingan untuk mengambil tepung dari material selain tepung. Alat-alat yan gdigunakan dalam proses pengayakan adalah plansifer, bran finisher, vibro finisher, dan purifier.

Produk apa yang dihasilkan?
Produk utama yang dihasilkan oleh PT ISM Bogasari Flour Mills adalah tepung terigu yang terdiri dari tiga merek yaitu Cakra Kembar, Segitiga Biru, dan Kunci Biru.

Limbah apa yang dihasilkan?
Limbah yang dihasilkan pada proses tepung terigu merupakan limbah yang tergolong tidak membahayakan. Limbah yang dihasilkan bahkan mampu dijadikan sebagai produk lain yang memiliki daya jual tinggi. Limbah yang memiliki daya jual tersebut adalah bran dan pollard yang dapat diolah menjadi pellet sehingga dapat dijadikan sebagai pakan ternak, tepung industri yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan lem dalam pembuatan kayu industri, germ  yang dapat diolah menajdi bahan pembuatan kapsul dan kosmetik.



Referensi :
1.      Kistanto. 2008. Mempelajari Proses Produksi Tepung Terigu dari Gandum di PT ISM Bogasari Flour Mils, Jakarta. Jakarta: Universitas Gunadarma.

2.      Ikhsanudin, Anwar. 2010. Laporan Magang PT Indofood Sukses Makmur. Tbk Bogasari Flour Mills Divisi Tanjung Priok, Jakarta Utara. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

0

PT. PRI (Production Recycling Indonesia)

Posted by Unknown on 03.49 in ,

PT. PRI (Production Recycling Indonesia)


Profil Perusahaan
PT Production Recycling Indonesia (PT PRI) didirikan pada tahun 2011 oleh para pakar dari penjuru dunia yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dari Jerman, untuk mencapai proses yang cepat dalam pengolahan daur ulang kuantitas penggunaan plastik PET. Plastik PET atau Polyethyline Terephthalate adalah suatu polyester yang terdiri secara ekslusif dari karbon, hidrogen dan oksigen. PT Production Recycling Indonesia menawarkan solusi yang lebih baik dalam pengolahan plastik PET, dengan teknologi proses yang baru, yang lebih ramah lingkungan dan menghemat sumber alam oli dan gas dibandingkan dengan  pengolahan plastik secara konvensional seperti dibakar
PT Production Recycling Indonesia memiliki target dalam proses produksinya. Dalam tujuan jangka menengah, PT PRI menargetkan untuk menjadi produsen plastik PET dengan mutu terbaik di Indonesia. Dalam jangka panjang, PT PRI menargetkan untuk merealisasikan “Botol untuk produksi Botol” melalui produksi serpihan plasik PET bermutu baik. Inti filosofi dari PT PRI adalah untuk melindungi dan melestarikan lingkungan. Untuk mencapai target tersebut, PT PRI telah mendirikan daur ulang plastik PET modern yang terletak di Dusun Tamelang RT. 008 RW. 004, Desa Mekarjaya, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang.


Produk dan Proses Produksi PT. PRI (Production Recycling Indonesia)
Dalam masyarakat modern kita terpanggil untuk mengaplikasikan bermacam sintetis pada berbagai lapangan. Satu dari yang paling menarik adalah plastik PET. PET atau Polyethyline Terephthalate adalah suatu polyester yang terdiri secara ekslusif dari karbon, hidrogen dan oxygen. Untuk memproduksi 1 kg PET, kita perlukan 1.9 kg minyak mentah dan 23 Kwh.
Dengan fasilitas modern yang digunakan oleh PT PRI, proses daur ulang plastik ini akan menghemat penggunaan energi sekitar 50% atau lebih dari 1 liter minyak mentah serta menghemat lebih dari 3 kg gas rumah kaca seperti contohnya karbondioksida (Co2), gas yang termasuk metana dan gas-gas lainnya yang relevan berhubungan dengan rumah kaca. Secara teknis, PET adalah suatu linear resin termoplastik yang dibentuk dengan cara kondensasi dari etilena glikol dan asam tereftalat yang dapat meleleh pada suhu diatas 250 °C , untuk membentuk amarf.
           Dasar kebutuhan daur ulang plastik PET adalah kemurnian dalam menangani bahan bakunya dari segala jenis ketidakmurnian atau kotoran yang dihindari. Tingkat kemurniannya dapat dibedakan tergantung dari permintaan dan kegunaan untuk kedepannya. Saat ini serpihan plastik botol PET diharapkan dengan tingkat kemurnian tinggi. Untuk mencapai ulang hasil yang mendekati 100% plastik PET untuk memproduksi botol-botol bekas pakai menjadi botol-botol baru, penanganan bahan bakunya harus mendekati murni atau mendekati sempurna bersih dari kotoran.
Setelah proses pengecekan kasat mata, plastik botol PET bekas kebanyakan di press dan dikemas dalam bentuk bal-bal. Pada langkah awal setiap kali produksi plastik PET adalah benar-benar teliti melakukan sortir baik secara manual ataupun menggunakan mesin. Pada tahap ini semua warna serta plastik bukan PET akan disortir dan diambil keluar. Khususnya semua jenis plastik PVC akan diambil keluar. Bahan baku yang telah disortir akan digiling atau dicacah menjadi serpihan kecil tergantung dari kebutuhan pemakaiannya. PT PRI menggunakan mesin cacah atau giling kapasitas besar untuk memberikan hasil serpihan yang proporsional. Disamping langkah penyortiran, pencucian dilakukan untuk melakukan sterilisasi, baik pencucian dengan menggunakan air dingin ataupun juga air panas, begitu juga dengan air mengunakan detergent serta tanpa detergent. Tahapan ini merupakan langkah penting untuk menghasilkan serpihan plastik PET yang bermutu tinggi. Berikut ini adalah serpihan daur ulang plastik PET yang dihasilkan oleh PT PRI.

Gambar Proses Pengolahan Proses Daur Ulang Plastik


Sumber:
http://www.pt-pri.com



0

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

Posted by Unknown on 07.03 in ,
A.                Ekologi Lingkungan



Ekologi adalah ilmu yang mempelajari antara makhluk hidup dengan makhluk hidup atau makhluk hidup dengan lingkungannya atau dengan kata lain, ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme (biotik) dengan lingkungannya (abiotik). Istilah ekologi diperkenalkan oleh Ernest Haeckel pada tahun 1869, berasal dari bahasa Yunani, yaitu Oikos yang berarti tempat tinggal dan Logos yang berarti Ilmu atau telaah. Ekologi dikelompokan kedalam 4 jenis, yaitu:
1.      Ekologi hutan
Ekologi hutan adalah Ilmu yang mempelajari hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungan. Hubungan ini sangat erat dan komplek sehingga menyatakan bahwa ekologi adalah biologi lingkungan (Eviromental biology). Hutan adalah tempat yag berisi tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan. Hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan hutan, margasatwa dan alam lingkungannya begitu erat sehingga hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem.
Ekosistem adalah suatu sistem didalam alam yang meliputi mahluk hidup dan lingkungannya yang saling mempengaruhi atau timbal balik untuk kelangsukan hidup mahluk tersebut.
Ekologi hutan adalah cabang ekologi yang khusus mempelajari masyarakat atau ekosistem hutan. Hutan dapat dipelajari dari segi autekologi dan synekologi. Berikut ini adalah penjelasannya:
a)      Autekologi mempelajari ekologi suatu jenis pohon atau pengaruh sesuatu faktor lingkungan terhadap hidup atau tumbuhnya satu atau lebih jenis-jenis pohon. Sifat penyelidikannya mendekati fisiologi tumbuh-tumbuhan.
b)      Synekologi mempelajari hutan sebagaimasyarakat atau ekositem misalnya penelitian tentang pengaruh keadaan tempattumbuh terhadap komposisi dan produksi hutan.
2.      Ekologi daratan
Ekologi daratan adalah ilmu yang mempelajari ilmu antara mahluk hidup dan lingkungannya terutama di daratan. Ekologi daratan meliputi manusia, tumbuhan, hewan, air, udara, dan cahaya. Dalam hal ini terjadi timbal balik untuk kelangsungan individu satu sama lain atau simbiolis mutualisme
3.      Ekologi laut
Ekologi laut merupakan ilmu yangmempelajari tentang ekosistem air laut. Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, terumbu karang, dan padang lamun. Habitat air laut (oceanic) ditandai oleh salinitas yang tinggi dengan ion Cl- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas dibagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termocline.
4.   Ekologi air tawar                                            
Ekologi air tawar adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan timbal balik di ekositem air yang dilakukan mahluk hidup dengan alam. Habitat air tawar menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi dibandingkan dengan habitat lautan dan daratan, tetapi bagi manusia kepentingannya jauh lebih berarti dibandingkan dengan luas daerahnya.
Berdasarkan pembasahan ekologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekologi memiliki keterkaitan dengan pembahasan lingkungan dan unsur-unsur penyusun dari lingkungan. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Menurut UU Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hodup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. L.L Bernard (dalam Siahaan, 1987:12) membagi lingkungan hidup terbagi kedalam 4 macam sesuai dengan tujuan mencari pola pengelolaan yang ditentukan dan dikehendaki, yaitu:
1.      Lingkungan fisik (Anorganik)
Lingkungan fisik terdiri dari gaya kosmik dan fisigeografis seperti tanah, udara, air, radiasi, gaya tarik, dan ombak.
2.      Lingkungan biologi (Organik)
Lingkungan biologi merupakan segala sesuatu yang bersifat biotis seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.
3.      Lingkungan sosial
Lingkungan sosial terdiri dari beberapa jenis, antara lain:
a)      Fisiososial, meliputi kebudayaan materiil seperti peralatan, senjata, mesin, gedung.
b)      Biososial, yaitu manusia dan interaksi terhadap sesamanya, hewan, beserta tumbuhan dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari dari sumber organik.
c)      Psikososial, yaitu hubungan antara tabiat batin manusia, seperti sikap, pandangan, keinginan, dan keyakinan. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan, agama, ideologi dan bahasa.
4.      Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional berupa lembaga-lembaga masyarakat.
Meskipun memiliki keterkaitan antara ekologi dengan lingkungan, dua hal tersebut memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada misi untuk mencari pengetahuan menyeluruh tentang alam dan dampak perlakuan manusia terhadap lingkungannya, guna menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan.

B.                 Keterkaitan Ekologi Lingkungan dengan Teknologi Industri
Ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini berkembang dengan pesat, hal ini bertujuan untuk mengubah gaya hidup manusia agar lebih mudah, cepat dan praktis untuk berkomunikasi atau mendapatkan informasi. Perkembangan iptek yang paling pesat adalah teknologi informasi dan teknologi industri. Dalam bidang industri, teknologi sangat diperlukan da terus berkembang dengan cepat. Karena dengan adanya teknologi dalam bidang industri mempermudah instansi industri melakukan kegiatan teknologi industrinya. Akan tetapi, perkembangan yang pesat di bidang teknologi industri tak selamanya berdampak positif. Ternyata banyak dampak negatif yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Seperti kerusakan lingkungan yang terjadi diakibatkan limbah pabrik dan perkembangan lahan hijau yang digunakan untuk lahan di bidang industri. Jika hal ini tidak ditindaklanjuti akan berdampak pada kerusakan bumi yang semakin parah.
Hubungan ekologi dan perkembangan iptek adalah perkembangan iptek banyak merubah lingkungan. Manusia melakukan perkembangan iptek untuk mengolah sumber daya alam yang ada. Sumber daya alam yang sudah diolah, akan digunakan untuk kepentingan makhluk-makhluk yang ada di bumi. Dalam sisi abiotik, pengembangan iptek bisa menjadi kesatupaduan untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, pentingnya ekologi dalam perkembangan iptek adalah agar manusia dapat mengetahui patokan dalam mengelola lingkungan dan sumber daya alam. Oleh karena itu, ilmu mengenai ekologi lingkungan dibutuhkan dalam mengelola dan menggunakan bahan yang ada di lingkungan.

C.                Azaz Pengetahuan Lingkungan
Azaz 1 menyatakan bahwa semua energi yang memasuki sebuah organisme, populasi, atau ekosistem yang dianggap sebagai energi tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain, serta tidak dapat hilang, dihancurkan, maupun diciptakan.
      Azaz 2 menyatakan bahwa tidak ada sistem perubahan energi sangat efisien. Misalnya pada Hukum Termodinamika II yaitu "Semua sistem biologi kurang efisien, kecenderungan umum, energi berdegradasi ke dalam bentuk panas yang tidak balik dan beradiasi menuju angkasa"
            Azaz 3 menyatakan bahwa materi, energi, ruang, waktu dan keanekaragaman, semuanya termasuk pada sumber alam.
Azaz 4 menyatakan bahwa semua kategori sumber alam, jika pengadaannya telah maksimal, pengaruh unit kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumber alam sampai ke tingkat maksimum.
Azaz 5 menyatakan bahwa terdapat dua jenis sumber alam, yaitu sumber alam yang pengadaannya dapat merangsang penggunaan, dan tidak mempunyai daya rangsang penggunaan.
Azaz 6 menyatakan bahwa Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya, cenderung akan berhasil mengalahkan saingannya tersebut.
Azaz 7 menyatakan bahwa kemantapan pada keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam lingkungan yang mudah diramal.
Azaz 8 menyatakan bahwa sebuah habitat dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman takson. Hal tersebut bergantung kepada bagaimana nicia dalam lingkungan hidup dapat memisahkan takson.
Azaz 9 menyatakan bahwa keanekaragaman komunitas apa saja sebanding dengan biomasa dibagi produktivitasnya. Terdapat hubungan antara biomasa, aliran energi, dan keanekaragaman dalam suatu sistem biologi.
Azaz 10 menyatakan bahwa lingkungan yang stabil perbandingan antara biomasa dengan produktivitas dalam perjalanan waktu naik mencapai sebuah asimtot. Sistem biologi menjalani evoluasi yang mengarah pada peningkatan efisiensi penggunaan energi pada lingkungan fisik yang stabil.
Azaz 11 menyatakan bahwa sistem yang telah mantap mengeksploitasi sistem yang belum mantap. Contohnya seperti pada hama tikus, serangga dari hutan rawa menyerang tanaman pertanian dilahan transmigran.
Azaz 12 menyatakan bahwa kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat tergantung kepada kepentingan relatifnya pada keadaan lingkungan.
Azaz 13 menyatakan bahwa ingkungan yang secara fisik telah mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman biologi pada ekosistem yang mantap, serta kemudian dapat menggalakkan kemantapan populasi lebih jauh.
Azaz 14 menyatakan bahwa derajat pola keteraturan naik-turunnya populasi tergantung kepada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang akan mempengaruhi populasi tersebut.

D.                Kesimpulan
Ekologi erat kaitannya dengan lingkungan beserta unsur-unsur penyusun lingkungan. Meskipun memiliki keterkaitan, dua hal tersebut memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada misi untuk mencari pengetahuan menyeluruh tentang alam dan dampak perlakuan manusia terhadap lingkungannya, guna menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan.
Setiap ada aksi, selalu diikuti oleh reaksi, demikian pula dengan aksi yang dilakukan manusia terhadap reaksi yang akan timbul pada lingkungan sekitarnya.
Kemajuan teknologi yang berjalan seiiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, yaitu memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Disisi lain, teknologi juga memberikan dampak negatif yang dapat membahayakan bagi lingkungan antara lain perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga terjadinya proses global warming. Dampak negatif tersebut muncul akibat dari penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dan limbah dari pabrik serta kendaraan bermotor yang tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, ilmu ekologi lingkungan perlu diterapkan dalam perkembangan iptek karena ekologi dapat menjadi acuan atau batasan dalam mengelola sumber daya alam tanpa harus merusak alam.
Penerapan ekologi dalam perkembangan iptek dapat dilakukan dengan cara mengurangi bahan berbahaya pada saat pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam seperlunya. Asas-asas pengetahuan lingkungan harus kita pelajari karena asas-asas inilah yang menjadi acuan dan pengendali kita dalam memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak kondisi lingkungan yang ada.

Referensi:
1.      http://hmtl.environment.uii.ac.id/pentingnya-ekologi-dalam-perkembangan/

2.   http://www.damayanti.staff.ipb.ac.id/files/2012/09/Pendahuluan.pdf

3.     http://adiseptiyawan.blogspot.co.id/2015/10/makalah-asas-asas-pengetahuan-lingkungan.html

4.   http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/ekologi-danilmu-lingkungan


Copyright © 2009 Welcome To My Blog!!! All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.